Prinsip Dasar Mediamorfosis

prinsip dasar mediamorfosis
Loading...

Riski Firmanto

Masih dalam tahap menuju Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Lampung

Prinsip-prinsip mediamorfosis, apa aja prinsip dasar mediamorfosis itu? sebenarnya tulisan ini dibuat karna masih ada hubungannya dengan skripsi penulis mengenai perubahan dari sebuah media menuju new media. semoga bisa membantu anda ya. selamat membaca

Prinsip Prinsip Mediamorfosis

1.  Coping with Change

Teknologi-teknologi baru sangat cepat diserap dalam budaya Amerika Serikat sehingga perspektif sejarah sering kali hilanh dalam proses tersebut. Apakah kita sempat berfikir dan membayangkan bagaimana kita bisa membuat grafis untuk berita tanpa komputer? Hal tersebut menunjukkan bahwa betapa cepatnya teknologi dan konsep baru bisa menjadi hal biasa bagi banyak orang.

The influence of personal computers

Kontribusi terbesar komputer terletak pada kemampuannya untuk mengurangi tahap-tahap produksi padat karya yang memakan waktu dan memungkinkan penyuntingan dengan cepat dan pengaktualan grafis, yang sering kali terjadi pada menit-menit terakhir menjelang deadline.

Loading...

Yesterday’s future, today’s past

Banyak hal yang kini diterima begitu saja pada kenyataannya belum lama muncul. Baru pada waktu belakangan, surat kabar dan majalah mulai mengubah ruang beritanya dari mesin ketik mekanik ke sistem penyuntingan naskah secara elektronis dan ruang composing dari teknologi panas ke teknologi dingin. Oleh karena itu, hanya sedikit jurnalis yang dapat membayangkan teknologi pengumpulan dan meramalkan dekstop publishing dan ledakan grafis berita yang dimungkinkan dengan keberadaan komputer pribadi.

Baca Juga:
Pengertian Soft News Beserta Contohnya Dalam Dasar-dasar Jurnalistik

13 Penjelasan Model-model Komunikasi Menurut Para Ahli Lengkap, Cek Disini!

Pengertian Analisis Framing Yang Harus Di Pahami Mahasiswa Komunikasi

2. Vision’s of Future Media

Dewasa ini, banyak contoh dari visi-visi yang pernah populer itu menunjukkan sebagian besar ahli pada waktu itu benar. Namun, visi-visi mereka itu semua salah arah, khususnya ketika harus memprediksikan bagaimana prestasi yang menakjubkan itu akan diwujudkan.

Missing the future

Pada tahun 1930an dan 1940an, para peramal memimpikan rumah yang dilengkapi dengan mesin faksimile yang akan mengirimkan edisi-edisi surat kabar terbaru secara langsung kepada para pelanggan, dan dengan demikian membuat percetakan-percetakan besar dan jaringan pengiriman manual menjadi usang. Beberapa pihak mungkin berpendapat bahwa visi tentang masa depan semacam ini tidak salah, hanya saja prediksi waktunya terlalu dini.

Loading...

Information superhighways and teleputers

Sejak awal tahun 1990an, guru-guru komunikasi telah memprediksikan bahwa pada dekade berikutnya jaringan-jaringan yang dikenal sebagai information superhighways akan menyebarluaskan secara rutin seluruh informasi interaktif, hiburan, perbelanjaan, dan berbagai layanan pribadi hampir kepada setiap orang melalui sebuah alat baru yang akan memadukan perlengkapan tv dan telepon dengan komputer pribadi.

3.  The 30-year rule

Perubahan mungkin tampak berlangsung dengan lebih cepat di dunia dewasa ini, namun berbagai studi atas banyak catatan sejarah telah menunjukkan bahwa hal ini merupakan kesalahpahaman yang umum terjadi. Paul Saffo, Direktur Institute for the Future di Menlo Park, California, mengungkapkan bahwa rentang waktu yang dibutuhkan gagasan-gagasan baru agar benar-benar meresap ke dalam sebuah kebudayaan lazimnya rata-rata mencapai tiga dekade, setidak-tidaknya selama lima abad terakhir. Ia menyebut hal ini sebagai The 30-year rule.

Stages of development

Saffo telah mengidentifikasi tiga tahap dalam The 30-year rule. Dekade pertama: banyak kehebohan, banyak teka-teki, tidak banyak penetrasi. Dekade kedua: banyak perubahan tanpa henti, penetrasi produk ke dalam masyarakat dimulai. Dekade ketiga: ‘Oh, so what?’ itu hanya teknologi standar dan setiap orang memilikinya.

Loading...

Restating the rule

Hukum ini bisa dijabarkan lagi dalam dua cara yang berbeda: (1) berbagai terobosan dan hasil temuan laboratorium hampir selalu membutuhkan waktu yang lebih lama daripada yang diperkirakan orang untuk bisa menjadi produk-produk atau layanan komersial yang sukses. (2) berbagai teknologi yang tampaknya tiba-tiba muncul sebagai produk-produk dan layanan-layanan baru yang mencatat sukses, entah diakui atau tidak, pada kenyataannya sudah ketinggalan.

The dangers of technomyopia

Kecenderungan untuk lebih dulu melewati berbagai tahap naik-turun ini akan menyumbang faktor tak terduga ketika sebuah teknologi baru pada akhirnya benar-benar sukses. Apalagi pengumuman atas temuan dan ciptaan baru hampir selalu diikuti oleh pemberitaan besar-besaran. Namun, ketika luapan kegembiraan awal ini mereda karena keberadaan berbagai kekecewaan dan kemerosotan, kita biasanya kemudian menjadi skeptis dalam membicarakan fase-fase pertumbuhan di masa yang akan datang. Saffo menyebut ini sebagai technomyopia (rabun dekat teknologi).

4.  Criteria for Adopting New Technologies

The example of cellular telephones

Keuntungan relatif, berbagai keuntungan relatif yang dirasakan dari telepon seluler tanpa kabel yang mengungguli telepon kabel dan telepon-radio semakin bertambah karena mobilitas dan efisiensinya yang lebih besar. Kesesuaian, karena layanan seluler terhubung dengan jaringan telepon yang sudah ada dan menggunakan sistem dialing standar, komunikasi antara ponsel dan telepon kabel dirasa relatif tanpa hambatan. Kompleksitas, penggunaan ponsel sama dengan penggunaan telepon kabel biasa. Kepercayaan, sebelum stasiun-stasiun pemancar dan penerima telepon selular akhirnya berhasil menjangkau hampir semua daerah padat penduduk di awal tahun 1990an. Kelaziman, cerita mengenai teknologi seluler dalam media mainstream selama tahun 1980an.

5.  The Importance of Early Adopters

Lima inovasi dalam daftar Rogers yang berkaitan dengan teori difusinya menunjukkan bahwa keberhasilan bentuk komunikasi baru mana pun tergantung pada seberapa nyaman dan mudahnya komunikasi baru itu dirasakan dalam kehidupan orang. Perusahaan-perusahaan hardwaredan software komputer baru belakangan ini menyadari bahwa metafora “jembatan pengenal” bisa menjadi alat yang sangat berarti untuk mendapatkan sambutan pasar.

6.  Technological Accelerators and Brakes

Dalam pandangan Winston, akselerator yang mendorong perkembangan berbagai teknologi media baru adalah apa yang ia sebut sebagai teknologi media baru adalah apa yang ia sebut sebagai kenutuhan sosial yang muncuk akibat perubahan. Sedangkan yang menjadi penghambat adalah hukum penindasan potensial radikal yang memperlambat dampak teknologi baru yang dapat menggoyahkan kemapanan atau perusahaan.

7.  The Mediamorphic Process

Mediamorfosis didefinisikan sebagai Transformasi media komunikasi, yang biasanya ditimbulkan akibat hubungan timbal balik yang rumit antara berbagai kebutuhan yang dirasakan, tekanan persaingan dan politik, serta berbagai inovasi sosial dan teknologi.

Beberapa prinsip kunci mediamorfosis berasal dari tiga konsep; koevolusi, konvergensi, dan kompleksitas. Koevolusi adalah berkelindan dengan susunan sistem komunikasi manusia dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam kebudayaan kita. Begitu muncul dan berkembang, setiap bentuk baru, dalam beberapa waktu dan hingga tingkat yang beraneka ragam, memengaruhi perkembangan setiap bentuk lain yang ada. Koevolusi dan koeksistensi, bukan rangkaian evolusi dan penggantian. Kekayaan teknologi-teknologi komunikasi yang sekarang kita terima begitu saja tidak akan mungkin terwujud jika kelahiran setiap medium baru terjadi bersamaan dengan kematian medium terdahulu. 

Kompleksitas masa perubahan besar, akan ada kondisi chaos. Chaos adalah komponen penting perubahan, dari kondisi chaos lahir gagasan-gagasan baru yang mentransformasikan dan menghidupkan sistem-sistem. Konvergensi selalu menjadi esensi evolusi dan proses mediamorfosis. Konvergensi berskala besar, sebagaimana kita saksikan dewasa ini dalam industri media dan telekomunikasi, mungkin terjadi hanya sekali namun bentuk-bentuk media yang ada saat ini pada kenyataannya merupakan hasil dari konvergensi-konvergensi berskala kecil yang tidak terhitung banyaknya yang sering kali terjadi sepanjang waktu. Konvergensi lebih menyerupai sebuah persilangan atau perkawinan, yang menghasilkan transformasi atas masing-masing entitas yang bertemu dan penciptaan entitas baru.

8.  Principles of Mediamorphosis in Perspective

Six fundamental principles of mediamorphosis:

a.            Koevolusi dan koeksistensi: semua bentuk media komunikasi hadir dan berkembang bersama dalam sistem yang adaptif dan kompleks, yang terus meluas

b.            Metamorfosis: media baru tidak muncul begitu saja dan terlepas dari yang lain.

c.             Pewarisan: bentuk-bentuk media komunikasi yang bermunculan mewarisi sifat-sifat dominan dari bentuk-bentuk sebelumnya.

d.            Kemampuan bertahan: semua bentuk media komunikasi dan perusahaan media dipaksa untu beradaptasi dan berkembang agar tetap dapat bertahan dalam lingkungan yang berubah.

e.            Peluang dan kebutuhan: media baru tidak diadopsi secara luas lantaran keterbatasan-keterbatasan teknologi itu sendiri.

f.             Pengapdosian yang tertunda: teknologi-teknologi media baru selalu membutuhkan waktu yang lebih lama daripada yang diperkirakan untuk mencapai kesuksesan bisnis.

Sumber : Berbagai sumber, Roger Fidler mengenai mediamorfosis

Widianti, Mira Adita. (2013). Prinsip-Prinsip Mediamorfosis, [Online]. Tersedia: http://aditawidianti.blogspot.co.id/2013/12/prinsip-prinsip-mediamorfosis.html

Bagikan Artikel Ini:

One thought on “Prinsip Dasar Mediamorfosis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *