Contoh Analisis Kasus Etika Komunikasi Tentang Penistaan Terhadap Agama

contoh analisis kasus etika komunikasi
Loading...

Riski Firmanto

Masih dalam tahap menuju Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Lampung

Contoh Analisis Kasus Etika Komunikasi, Dalam Matakuliah Etika dan Filsafat ilmu komunikasi, biasanya mahasiswa komunikasi diberikan tugas mengenai analisis suatu kasus yang sedang viral atau yang seseui dengan arahan dosen mata kuliah tersebut. Dalam artikel ini akan membahas mengenai etika komunikasi terhadap kasus penistaan agama yang sempat viral di tahun 2016. Selamat Membaca, ingat setiap mengutip artikel di jurnal rival wajib mencantumkan sumber. Selamat Mengerjakan Tugas

Contoh Kasus

Dikutip dari laman http://m.cnnindonesia.com Pada tanggal 4 November 2016 terjadi demo besar-besaran di Jakarta yang dilakukan oleh umat Islam di Indonesia yang disebabkan viralnya potongan video pidato Basuki Tjahja Purnama yang menyebut Surat Al-Maidah yang diupload oleh Buni Yani ke Facebook. Buni Yani diduga menyebarkan informasi yang menimbulkan rasa kebencian berdasarkan SARA. Hal itu bermula pada 6 Oktober 2016 buni Yani mengunggah cuplikan video Ahok saat ketebalan Gubernur DKI Jakarta di Kepulauan Seribuyang diberi judul PENISTAAN TERHADAP AGAMA?

Baca Juga: 13 Penjelasan Model-model Komunikasi Menurut Para Ahli Lengkap, Cek Disini!


Etika Komunikasi Dalam Membahas Fetisisme Dan Pornografi

Partner Jurnal Rival (Rival Finance Indonesia)

Contoh Analisis Kasus

Hal ini merupakan salah satu pelanggaran etika dalam media baru. Jika ditelesik, ada dua isu yang dapat didiskusikan dalam transkrip Buni Yani yang memaparkan pidato Ahok tersebut. Pertama, pemotongan video dari durasi yang kurang lebih 1,5 jam menjadi hanya 30 detik. Pemotongan video tersebut jelas akan menghilangkan konteks. Padahal suatu wacana atau tuturan hampir pasti terjadi dalam suatu konteks tertentu, entah terjadi dalam suatu institusi atau organisasi (konteks makro), ataupun dalam waktu, tempat, dan partisipan tertentu (konteks mikro). Oleh karena itu, wacana individu yang lengkap haruslah dilihat dalam konteks makro agar dapat ditangkap makna khusus dari rangkaian wacana atau tekstual khusus. Kedua, penghilangan kata “pakai” dalam transkrip itu sehingga maknanya menjadi sangat berbeda. Wacana tekstual adalah persoalan bagaimana para pelaku komunikasi menggunakan bahasa maka ketika ada satu atau lebih unsur kalimat dihilangkan maka akan menjadi sangat berbeda maknanya.

Loading...

Pendekatan Struktural (Konteks Makro)

Jika dilihat dari pendekatan struktural (konteks makro) Buni Yani menggunakan akun pribadi media sosial Facebook, yang artinya bukan merupakan institusi media/pers melainkan individu semata. Meskipun begitu, Buni Yani merupakan individu yang menyebarluaskan informasi tersebut. Jika dilihat dari wacana atau tuturan yang disampaikan oleh Ahok merupakan hal yang wajar, karena Ahok berada di Institusi Pemerintahaan Provinsi DKI Jakarta yang ia bebas melakukan pidato diwilayah otonomnya salah satunya Kepulauan Seribu, tentunya dalam kasus ini seharusnya video tersebut diunggah dengan durasi yang sebenarnya dan wacana tekstual yang lengkap tanpa dihilangkan satu kata pun agar tidak menimbulkan dampak yang besar bagi Pemerintah DKI Jakarta, karena keberadaan Ahok di Kepulauan Seribu merupakan hal yang berkaitan dengan urusan pemerintah daerah DKI Jakarta.

Pendekatan kultural (Konteks Mikro)

Dilihat dari pendekatan kultural (konteks mikro) perilaku Buni Yani yang memotong durasi video tersebut sangatlah salah, karena durasi yang telah dipotong dan belum dipotong akan menimbulkan persepsi yang berbeda pada masyarakat, selain itu penghilangan kata “pakai” merupakan tindakan yang ceroboh dalam bermedia sosial, terkait Ahok merupaka pimpinan daerah saat itu akan menimbulkan kontroversi, perdebatan, dan aksi protes dari masyarakat. Serta penulisan keterangan (caption) atau judul dalam postingan akan mempengaruhi respon atau pendapat yang sama terhadap video yang diunggah tersebut, dengan kata lain dapat memprovokasi penonton video tersebut.

Baca Juga: Materi Ilmu Komunikasi, Relasi antara Etika, Komunikasi dan Negosiasi


Etika dan Filsafat Komunikasi, ‘Upaya Memperoleh Kebenaran Serta Materi Lainnya’

Jurnal Rival Populer

Adapun karakteristik dari media baru menurut Feldman dalam Flew (2008) :

  • Media baru dapat dimanipulasi. Hal ini mendapat tanggapan negatif dan menjadi perdebatan, karena media baru memungkinkan setiap orang untuk memanipulasi atau merubah berbagai data dan informasi secara bebas.
  • Media baru bersifat networkable. Artinya, konten-konten yang terdapat dalam media baru dapat dengan mudah dishare dan dipertukarkan antar pengguna lewat jaringan internet yang tersedia.
  • Media baru bersifat compressible. Konten – konten yang ada dalam media baru dapat diperkecil ukurannya sehingga kapasitasnya dapat dikurangi.
  • Media baru sifatnya padat. Dimana kita hanya membutuhkan space yang kecil untuk menyimpan berbagai konten yang ada dalam media baru.
  • Media baru bersifat imparsial. Konten-konten yang ada dalam media baru tidak berpihak pada siapapun dan tidak dikuasai oleh segelintir orang saja. Karena itulah media baru sering disebut sebagai media yang sangat demokratis.

Dibandingkan dengan khalayak media massa, khalayak media baru jauh lebih bebas dan otonom. Ia tidak hanya membaca, tapi sekaligus memberikan respon segera atas apa yang dibacanya itu dalam waktu dan situasi yang dipilihnya. Selain itu, para pengguna media baru juga mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki khalayak media massa karena bisa memproduksi dan menyebarkannya. Oleh karenanya, setiap tindakan komunikasi terutama dalam memproduksi dan mendistribusikan pesan-pesan komunikasi harus selalu dilandasi oleh etis komunikasi.

Loading...

Konsep Ruang Publik

Konsep ruang publik (public sphere) yang terdapat dalam kasus tersebut dapat dilihat dari konten yang terdapat pada media baru tersebut, misalnya di Facebook, yang menjadi ruang publik pada media tersebut adalah konten kolom komentar, yang dimana siapapun bebas membicarakan kasus yang terjadi. Seperti yang dibahas diatas, dimana para pengguna Facebook yang menjadi khalayak media tersebut memiliki kebebasan dalam berpendapat dan mengeluarkan aspirasinya yang merupakan karakteristik dari media baru yaitu sebagai media yang demokratis.

Konsep Public Space

Sedangkan public space dalam kasus tersebut adalah media baru itu sendiri, misalnya Facebook yang merupakan arena kehidupan sosial dimana setiap orang bebas mendiskusikan berbagai bentuk permasalahan sosial di masyarakat. Facebook menjadi public space dimana khalayak atau pengguna Facebook tersebut dapat menyalurkan dan mendiskusikan berbagai permasalahan. Dimana setiap penggunanya dapat memproduksi dan mendistribusikan informasi atau berbagai hal sendiri.

Bagikan Artikel Ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *